Mungkin blog ini akan dimulai dengan kata2 yang sama dengan blog
yang berjudul ’yups mayang si anak mami papi itu’.
But not today. Cause I know I can, and I shouldn’t think too little
of me. Emang pertama kali gue mencoba untuk naik gunung, banyak reaksi negatif
dari banyak orang.
Ada yang bilang gue kesambet setan. Ada
yang bilang gue salah gaul. Bahkan bokap gue nyaris melarang karena menurutnya
it’s too risky, dan teman2 gue kurang persiapan. Dengan keras kepala, gue
bilang. Gue percaya sama temen gue. Gue yakin mereka bisa bawa gue naik, dan
pasti bisa bawa gue turun lagi. Dengan selamat!!
So dibelikanlah gue beberapa perlengkapan buat naik gunung
bangsanya poncho sama sleeping bag (Gak lupa pula untuk melengkapi pengalaman
gue yang minim, satu buku yang berjudul ‘Panduan Mendaki Gunung’). Dengan
embel2 ‘paling cuma dipake satu kali’.
Tapi nyatanya. Here I
am. Masuk ke hutan, mendaki bebatuan, menyeberangi sungai2, intinya gue kembali
ke gunung.
Begitu denger anak2 itu
mau naik ke gunung Pangrango, gue langsung mengajukan diri untuk ikutan. Karena
gue emang belum pernah ke Pangrango. Baru ke Gunung Gede doang. Denger punya
denger katanya Gunung Pangrango lebih tinggi. Jadi sekalian meng-improve diri
lah. Ternyata improve yang dilakukan terlalu berlebihan. Karena gak cuma gue
mendaki Gunung Pangrango tapi gue juga mendaki Gunung Gede. Jadi dalam waktu 3
hari 2 malam kita mendaki 2 gunung itu.
Bagaikan lagu
wonderful world, pemandangan gunung memang sangat indah. For more gak cuma
pemandangan yang gue dapet, tapi juga teman dan tawa selama perjalanan. Haqqul
yakin, tanpa bantuan anak2 cowok yang rela bawain barang cewek2 biar lebih
mudah sampe ke puncak Gunung Pangrango, gak mungkin gue bisa sampe kesitu.
Jadi gimana siy
kronologisnya. Seperti biasa kita naik dari Cibodas. Karena berangkat telat,
kita nginep di pos WC sebelum aliran air panas. Paginya kita langsung berangkat
menuju Kandang Badak. Istirahat
sebentar, repack, trus kita cao deh ke puncak Gunung Pangrango. Sempet kecewa
begitu sampe puncak gunung Pangrango. Puncaknya cuma seuprit, gak ada
pemandangan berarti. Pas nanya ke temen yang udah sampe duluan ’mana
edelweissnya??’, dia cuma nunjuk satu batang edelweiss sambil bilang ’tu’.
Heh!!! Shok juga. Tapi ternyata setelah kita berjalan sedikit lebih jauh lagi
(turun ke lembah) nemu deh Padang Edelweiss yang dicari2. (FYI gambar di samping adalah para pejuang2 cewek yang ikut ekspedisi kali ini -ehm..ehm..- dengan latar belakang puncak gunung pangrango diliat dari Kandang Badak).
Jam 2 kita turun lagi dari Puncak Pangrango balik ke Kandang Badak. Niatnya
langsung ke Gede. Tapi emang dasar udah malem, dan jalan ke Gede itu lebih
terjal. Jadi kita mutusin untuk nginep di Kandang Badak semalem.
Begitu bangun pagi tanggal 14. Kita semua udah bertekad bulat. Kita harus
mendaki Gunung Gede dan kembali ke Bogor lewat Gunung Putri. Perasaan ragu gue
waktu malem, yang merasa diri gue gak sanggup pun harus gue hilangkan. Saat itu gue harus percaya bahwa diri gue pasti bisa
. Dan ternyata puncak Gunung Gede dari Kandang Badak gak terlalu jauh. Apalagi
gue + temen2 mencoba trek yang lebih terjal tapi lebih pendek. Mungkin
melelahkan, tapi pengalamannya poll. Ketika sampe di tanjakan setan sebelah kanan. Gue menyempatkan diri untuk
menengok ke belakang. Indahnya…. ada Puncak Gunung Pangrango yang tidak
tertutup kabut setitik juga. Dalam hati gue membatin ’yups made it that far
yesterday’. Mungkin gue gak sempet mengabadikan itu semua ke dalam kamera. Tapi
gue bisa menyimpannya dalam memori gue.
Apakah ini bakal jadi hobi baru?? Jujur aja gue masih sering ngrepotin
orang selama perjalanan. Gue akui gue masih banyak kekurangan dalam hal
surviving in the wild world. Terutama karena gue terlalu menyandarkan diri pada
temen gue, tanpa bisa menjadi tempat sandaran bagi yang lainnya. Tapi
setidaknya niat gue kali ini untuk mendaki udah berubah. Niat gue adalah ’gue
harus sampe puncak, no matter what’. Sedangkan dulu gue emang cuma pengen
coba2. Kaya’ apa siy naik gunung, keliatannya seru, keren. Makanya waktu itu di
tengah2 perjalanan gue sempet merasa ’apakah gue salah mengambil keputusan,
kenapa juga gue mau diajak2 naik ke sini’. But now, it’s different.
Banyak hal yang gue
dapetin. Gak bisa diuraikan satu per satu. It just feels extraordinary. No matter how many times
you go there, no matter how many times you’ve reached the top, that sense of
glory will always be there. Sempat terngiang-ngiang perkataan seorang temen di
dalam bus selama perjalanan pulang. ‘gue paling suka di gunung, pemandangan
paling indah itu ada di gunung, pantai mah gak ada apa2nya. Soalnya untuk
melihat keindahan gunung itu lo harus usaha dulu. Itu maknanya, untuk melihat
sesuatu yang indah perlu usaha’. Gue menyerap kata2 dia dalam arti luas. It’s
as simple as one two three. When you want something, you just gotta work things
out to get it. (secara halal tentunya)

Tim ekspedisi -ehm..ehm..lagi- komplit

Tim ekspedisi minus Bung Galuh dengan latar belakang Puncak Gunung Gede